Artikel Terkini

7 Kiat Sukses KH. Junaidi Hidayat dalam Membangun Pendidikan •

7 Kiat Sukses KH. Junaidi Hidayat dalam Membangun Pendidikan •
7 Kiat Sukses KH. Junaidi Hidayat dalam Membangun Pendidikan • 1

7 Kiat Sukses KH. Junaidi Hidayat dalam Membangun Pendidikan

Ketika sowan ke Jombang, salah satu Kiai yang kami kunjungi adalah KH. Junaidi Hidayat. Beliau adalah Pengasuh Pondok Pesantren Al-Aqobah, Kwaron Diwek Jombang.

Saat penulis di pondok ini pada tahun 2003-2004, pondok ini dikenal dengan Pondok Mahasiswa Al-Aqobah yang santrinya rata-rata studi di IKAHA (Institut Keislaman Hasyim Asy’ari) yang sekarang menjadi UNHASY (Universitas Hasyim Asy’ari). Pondok ini saat itu baru membuka satu sekolah formal, yaitu SMP Al-Aqobah. Penulis ikut terlibat pada awal perintisannya sebagai petugas imam shalat dhuha. Penulis tidak bisa terlibat aktif karena termasuk kaum sarungan (tidak sarjana).

Setelah kurang lebih 19 tahun, perkembangan pondok ini sangat cepat. Sekarang sudah ada Al-Aqobah 1, 2, 3, 4, 5, dan 6. Inovasi terbaru adalah AIS (Aqobah International School) yang menggunakan dua bahasa internasional (arab-inggris) sebagai bahasa pengantar, termasuk dalam memberikan makna pada kitab kuning. Maka wajar jika KH. Junaidi Hidayat tampil sebagai sosok inovator pendidikan pesantren yang layak kita teladani.

Kesuksesan yang diraih KH. Junaidi Hidayat tidak datang tiba-tiba. Kegigihan, keberanian melangkah, optimisme, dan kepercayaan diri yang tinggi menjadi kunci dalam menghadapi berbagai rintangan yang menghadang sehingga mampu berprestasi tinggi seperti sekarang.

Ada beberapa kiat sukses yang diterapkan KH. Junaidi Hidayat sehingga mampu membawa prestasi gemilang di lembaga pendidikan.

Pertama, berorientasi pengembangan potensi anak didik.

Pendidikan yang dikembangkan pondok Al-Aqobah adalah mengembangkan potensi setiap anak. Setiap anak adalah genius. Potensi setiap anak sangat unik, sehingga harus digali dan dimunculkan agar tampak ke permukaan dan dikembangkan untuk kepentingan individu, keluarga dan masyarakat luas. Tidak ada anak yang bodoh. Tidak boleh menganggap anak bodoh dan ketinggalan zaman. Anak adalah anugerah terbesar Allah kepada orangtua, masyarakat, dan bangsa. Tugas lembaga pendidikan adalah menggali dan mengembangkan potensi-bakat spesifik setiap anak. Anak harus menikmati pendidikan secara nyaman sehingga bisa memunculkan dan mengembangkan potensi terbesarnya.

Kedua, berorientasi substansi, bukan formalitas.

Dalam menjalankan idealismenya, KH. Junaidi Hidayat lebih menekankan-memprioritaskan substansi lembaga pendidikan dalam mengembangkan ilmu, meningkatkan life skills dan pemantapan aspek moralitas-spritualitas. Aturan pemerintah diikuti dalam standar minimal. Selebihnya adalah fokus pada realisasi substansi pendidikan yang ingin menghantarkan kesuksesan anak didik. Salah satu contoh dalam hal ini adalah moving class (berpindah-pindah kelas) sesuai dengan bidang studi yang dikaji, belajar tidak hanya di kelas, tapi bisa di ruang terbuka, di gazebo-gazebo, dan lain-lain. Hal ini membuat anak fresh, tidak jenuh, kreativitas muncul dan berkembang, dan imajinasi meningkat tajam.

Ketiga, menggabungkan berbagai inovasi metode pembelajaran.

KH. Junaidi Hidayat mampu melakukan sintesa dari berbagai metode pembelajaran yang terbukti interesting dan efektif. Di Pondok Al-Aqobah ada metode Amtsilati Jepara yang digagas KH. Taufiqul Hakim. Juga ada metode penguasaan bahasa arab-inggris ala pondok Gontor. Berbagai metode pembelajaran yang terbukti efektif ini digabung sehingga menghasilkan prestasi demi prestasi yang menakjubkan. Beliau aktif mengamati, menyerap, dan memahami metode-metode pendidikan yang muncul sehingga bisa diadaptasi dan dikombinasi secara sinergis dengan berbagai metode yang ada.

Keempat, selalu berkonsultasi dengan pakar.

KH. Junaidi Hidayat punya pengalaman sebagai Kepala Sekolah Aliyah di Madrasah Salafiyyah Syafi’iyyah Tebuireng selama dua periode. Pengalaman ini sangat berharga ketika beliau merintis dan mengembangkan lembaga pendidikan. Salah satu yang dilakukan dalam mengelola pendidikan adalah selalu belajar, berdiskusi, dan bertanya kepada pakar-ahlinya. Beliau mempunyai konsultan pendidikan sebagai tempat mendiskusikan berbagai problema pendidikan. Kreativitas dan inovasi selalu berpijak kepada ilmu. Inilah yang membuat gebrakan KH. Junaidi Hidayat selalu dalam kerangka yang tepat. Pembaruan yang dilakukan berbasis pengetahuan.

Kelima, mengedepankan profesionalitas.

Dalam mengelola pendidikan, profesionalitas menjadi core value yang menjadi ruh organisasi. Profesionalitas manajemen, guru, tenaga pendidikan, anak didik, orangtua santri, dan lain-lain diprioritaskan. Jika profesionalitas tidak diprioritaskan, maka lembaga pendidikan akan menghadapi problem yang menghambat idealisme ‘mengantar kesuksesan anak didik sesuai potensi terbesarnya’. Menegakkan profesionalitas dibutuhkan manajemen amanah dan fathanah, sumber daya pendidik dan tenaga kependidikan yang kreatif-kompetitif, anak didik yang semangat tinggi, dan lingkungan sosial yang kondusif.

Keenam, menuju pendidikan yang mandiri.

KH. Junaidi Hidayat bermimpi lembaga pendidikan modern pada saatnya harus meniru Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Ploso Kediri, Kajen Pati, dan Sarang Rembang. Pondok ini bisa secara mandiri merancang kurikulumnya yang terbukti menghasilkan outputs (mutakharrijin-mutakharrijat) yang bermanfaat di tengah masyarakat dengan kualitas tinggi. Spirit ‘kemandirian kurikulum ala pondok salaf’ ini harus terus terpatri dalam diri praktisi pendidikan di Indonesia supaya mampu menghasilkan kader-kader handal masa depan yang mampu membangun bangsa di berbagai aspek kehidupan. Kurikulum mandiri namun mampu menjadi ‘magnet’ masyarakat menjadi bukti nyata bahwa masyarakat mengharapkan lembaga pendidikan yang mampu menghasilkan lulusan yang bermanfaat bagi masyarakat secara riil. Kebutuhan masyarakat inilah yang harus digali, ditangkap, dirumuskan, dan dilaksanakan secara optimal sehingga masyarakat ‘puas’ dengan layanan pendidikan yang diberikan.

Ketujuh, berani berpikir di luar kotak.

Prestasi demi prestasi yang diraih KH. Junaidi Hidayat tidak lepas dari keberanian beliau berpikir di luar kotak, di luar mainstream, di luar konvensional, dan tidak monoton. Jika cara berpikirnya sesuai arus umum, maka hasilnya juga seperti yang biasa dilihat, biasa-biasa saja, tanpa ada lompatan signifikan. Selalu mencari cara baru, metode baru, dan inovasi baru yang mendinamisir potensi anak didik sampai ke level tertinggi yang bisa dilakukan adalah ruh yang menjadi pondasi lembaga yang tertanam kuat.

7 kiat sukses di atas menjadi paradigma baru yang dijalankan KH. Junaidi Hidayat dalam memahami dan mengelola lembaga pendidikan. Prestasi demi prestasi tidak lepas dari 7 kiat sukses di atas.

Semoga inspirasi hebat KH. Junaidi Hidayat ini membawa kemajuan bangsa dengan lahirnya kader-kader hebat masa depan, amiin.

Pati, 1 Juni 2022

Penulis : KH. Jamal Ma’mur


7 Kiat Sukses KH. Junaidi Hidayat dalam Membangun Pendidikan • 1
kontraktor rumah
bina rumah
pinjaman lppsa
pengeluaran kwsp
spesifikasi rumah
rumah ibs
pelan rumah
rekabentuk rumah
bina rumah atas tanah sendiri
kontraktor rumah selangor
rumah banglo syaifulloh bin imam muhtasari kontraktor bina rumah ibs saif muhtar

Source


kontraktor rumah, bina rumah, pinjaman lppsa, pengeluaran kwsp, spesifikasi rumah, rumah ibs, pelan rumah, rekabentuk rumah, bina rumah atas tanah sendiri, kontraktor rumah selangor, rumah banglo
syaifulloh bin imam muhtasari kontraktor bina rumah ibs saif muhtar
syaifulloh bin imam muhtasari kontraktor bina rumah ibs saif muhtar
syaifulloh bin imam muhtasari kontraktor bina rumah ibs saif muhtar

Back to list