Artikel Terkini

Adab Komunikasi antar Orang Tua dan Anak: Belajar Kisah Luqman Hakim

Adab Komunikasi antar Orang Tua dan Anak: Belajar Kisah Luqman Hakim
Adab Komunikasi antar Orang Tua dan Anak: Belajar Kisah Luqman Hakim 1

Ibu sebagai pengasuh dan ayah sebagai kawan bermain, inilah adab berkomunikasi antara orang tua dan anak seperti sahabat Luqman Hakim

Hidayatullah.com | PENDIDIKAN tidak bisa terlepaskan dari ketiga hal, yakni keluarga, sekolah, dan juga masyarakat. Ketiga faktor ini merupakan kunci dari keberhasilan pada suatu negara atau bangsa.

Dan ketiga faktor tersebut mempunyai fungsi dan peranannya masing-masing dan bersinergi dalam mengelola dan mengembangkan pendidikan. Namun, pada artikel ini kita akan membahas tentang pendidikan keluarga karena keluarga merupakan pokok utama dalam pendidikan selanjutnya.

Keluarga merupakan sebuah “umat” yang terdiri dari pimpinan dan juga anggota yang mana keduanya mempunyai pembagian tugasnya masing-masing serta mempunyai hak dan kewajibannya yang telah ditentukan oleh masing-masing anggotanya. Dan keluarga diibaratkan sebagai tempat belajar (sekolah) bagi putra-putri bangsa. Dari sanalah mereka mempelajari sifat-sifat mulia seperti kesetiaan, kasih sayang, ghirah (kecenderungan untuk bertindak positif), dan lain sebagainya.

Disamping itu, keluarga juga merupakan unit terkecil yang menjadi pendukung dan pembangkit lainnya, selama pembangkitan itu mempunyai arus yang positif. Memang keluarga mempunyai peranan yang besar bagi maju-mundurnya sebuah bangsa. Kalau dalam istilah keagamaan diungkapkan dengan “Al Mar’ah ‘Imaadul Bilaad (ibu adalah tiang negara)”, maka pada hakikatnya keluarga diungkapkan dengan “Al Usrah ‘Imaadul Bilaad bihaa Rahyaa wa bihaa Tamuut (keluarga adalah tiang tiang negara, dengan keluargalah peradaban bisa bangkit atau runtuh).

Selama ini berkembang pemahaman dan kebiasaan di tengah masyarakat kita, bahwa mendidik dan mengasuh anak adalah tugas seorang ibu. Ayah hanya membantu saja, namun ibulah yang harus mendidik anak sepenuhnya.

Dampak dari pemahaman seperti ini sangat panjang dan lebar, tampak dalam berbagai fenomena kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat. Perhatikan contoh fenomena berikut ini;

  • Jika ada undangan dari sekolah untuk mnghadiri pertemuan orang tua murid dengan guru, yang paling banyak datang adalah ibu-ibu. Waktu ditanya oleh narasumber; kemana suami mereka, maka, pasti jawabannya; suami sibuk kerja. Namun ketika pertemuan dibuat pada hari libur, yang datang tetap juga ibu-ibu.
  • Pada saat acara pengambilan raport semester atau kenaikan kelas, tampak yang paling banyak datang adalah ibu-ibu. Adapun yang datang ayahnya, paling dapat dihitung dengan lima jari.
  • Ketika acara Seminar Parenting dengan tema pendidikan anak, yang memenuhi ruang adalah ibu-ibu Ketika acara pengajian umum dengan tema Pendidikan Anak dalam Islam, yang berduyun-duyun hadir adalah ibu-ibu.
  • Yang lebih telaten dan betah menemani anak belajar saat di rumah adalah ibu.

Beberapa fenomena tersebut hanyalah contoh dari adanya pemahaman tentang tugas mendidik dan mengasuh anak adalah ibu. Padahal jika kembalikan kepada ajaran agama, pendidikan anak adalah kewajiban bersama antara suami dan istri, atau antara ayah dengan ibu.

Kedua belah pihak memiliki beban tanggung jawab yang seimbang dalam mendidik dan mengasuh anak, karena pada dasarnya anak memerlukan sentuhan pendidikan, pembinaan, pengasuhan dari kedua orang tua.

Berbicara mengenai keluarga tentunya bukan hal yang biasa saja. Setiap keluarga memiliki cara komunikasi  yang berbeda-beda. Keluarga merupakan salah satu tempat yang memegang peranan penting dalam keberhasilan seorang anak.

Bisa kita mengingat kembali, sebagian besar waktu keseharian anak dengan keluarganya. Orang tua adalah orang-orang penting dan berperan penuh bagi anak dalam interaksi mereka dan interaksi antar orang tua pun berpengaruh terhadap pembentukan suatu karakter anak.

Orang tua adalah segalanya bagi anak. Tentunya tumbuh kembang anak pun didasari juga oleh didikan dari kedua orang tuanya.

Menjadi orang tua bukanlah suatu hal yang mudah, mendidik dan menjadikan suatu karakter dalam diri anak harus dari usia sedini mungkin untuk membentuk kepribadian anak hingga menjadikan mereka suatu kebiasaan sampai menjadi karakter di dalam diri anak tersebut.

Oleh karena itu mengapa sangat penting peran komunikasi  orang tua dalam tumbuh kembang anak hingga sampai dewasa. Orang tua yang kurang bisa berkomunikasi  dengan anaknya akan menimbulkan keretakan maupun konflik dalam hubungan anak dengan orang tuanya.

Oleh karena itulah, pendidikan anak tidak hanya kewajiban untuk para ibu. Ayah pun juga wajiib untuk memegang peranan yang sangat penting dalam menentukan proses perkembangan anaknya. Keduanya harus saling mendominasi pada proses pengembangan pribadi sang anak.

Salah satunya ialah dengan menyenangkan kondisi keluarga dan membuat rasa nyaman bagi seluruh anggota keluarga, termasuk anak. Maka dengan hal itu wajib kita  mengkontrol dalam mengasuh dan membimbing anak.

Peran ibu dalam keluarga sangatlah mulia sekali. Ia sangat berperan besar dalam kelengkapan rumah tangga.

Bahkan seperti yang disampaikan diatas bahwa ibu merupakan ukuran kesuksesan dalam keluarga. Benarlah apa yang disampaikan dalam sebuah maqalah; Al Ummu Hiya Madrasatul Uulaa (ibu merupakan madrasah / pendidikan pertama). Jika seorang ibu adalah wanita yang baik, maka kondisi keluarganya akan baik. Namun, jika seorang ibu merupakan wanita yang buruk, maka dipastikan bahwa kondisi keluarganya akan hancur.

Begitu juga dengan peranan ayah dalam pendidikan anak. Albert Bandura, seorang psikolog mengatakan bahwa dalam perkembangan kepribadian anak terdapat tugas perkembangan yang mengambil orang-orang disekitar anak sebagai model peniru.

Dalam hal ini, ayah sebagai simbol maskulin dalam pendidikan anak peran jenis. Ada sebuah ungkapan yang menyatakan mother as a caregiver and father as a playmate (ibu sebagai pengasuh dan ayah sebagai kawan bermain).

Jadi, ibu lebih banyak memperhatikan aspek fisik dan memunjukkan kasih sayang sedangkan ayah mengambil peran sebagai teman.

Sesungguhnya diantara karunia terbesar yang Allah wajibkan bagi kita sebagai (calon) orang tua terhadap karunia keturunan adalah mewajibkan untuk mendidik dan menjaga mereka dalam hal yang membawanya ke jalan kebaikan bagi mereka baik di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itulah, pedoman yang baik dalam mendidik anak adalah Al-Quran.

Hampir semua unsur yang berkaitn dengan pendidikan sudah dijelaskan secara tersurat ataupun tersirat didalamnya. Al-Quran juga telah menaruh perhatian terhadap hidayah bagi manusia sejak dini, bahkan semenjak belum dilahirkan ke dunia.

Oleh karena itulah para orang tua dibimbing (sebelum membimbing anak) untuk berdoa agar menjadi pribadi anak yang shalih dan diperintahkan juga untuk meneladani ibrah para nabi dan rasul serta tokoh-tokoh orang shalih dalam mendidik anak mereka. Dan Al-Quran telah mengisahkan kepada kita sebagian sejarah para nabi dan rasul serta tokoh-tokoh orang shalih dalam membimbing dan membina keluarga mereka.

Namun, pada tulisan ini penulis akan mengambil ibrah pendidikan anak dari seorang tokoh yang namanya juga merupakan nama surat yang keurutan 31, yakni Surat Luqman. Penulis tidak akan membicarakan siapakah Luqman, tetapi penulis akan memetik hikmah yang tersirat didalamnya untuk dijadikan pedoman dalam mendidik dan membimbing anak. Maka, perhatikan Firman Allah berikut;

وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ”Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.

Perhatikanlah bagaimana Luqman berbicara kepada anaknya tatkala ia mendidiknya. Perhatikanlah bagimana Luqman memanggil anaknya dengan panggilan yang mesra, “Ya Bunayya (wahai anakku)” sebagai isyarat bahwa mendidik anak hendaklah didasari dengan penuh kasih sayang terhadapnya.

Sikap pertama yang harus diketahui dan disadari oleh orang tua bahwa tidak seorangpun yang ingin orang lain lebih baik dari dirinya kecuali orang lain itu adalah anaknya. Karenanya tiada orang tua yang tidak menginginkan anaknya menjadi orang yang istimewa.

Maka salah satu cara untuk merealisasikannya adalah dengan menasihatinya. Namun, hal itu dianggap hal yang remeh.

Terkadang orang tua akan membentak anaknya ketika ia melakukan suatu kesalahan atau keluputan. Memang pada awalnya ia mendidik anaknya tetapi kalau diselingi dengan emosi yang tidak teratur dan akhirnya membentak anaknya maka akan membawa dampak negatif yang sangat dahsyat, terutama dampak dari psikologi.

Seorang anak tentunya akan sadar kalau orang tua memarahinya itu memiliki tujuan yang baik. Memang boleh jadi orang tuanya keliru dalam pandangan anaknya.

Akan tetapi kekeliruannya itu, kalau benar demikian, maka harus disikapi oleh anak dengan baik bahwa maksud orang tua itu adalah baik namun boleh jadi pemahaman anak yang salah. Memang seringkali banyak orang tua yang tidak menyadari tentang kebenaran orang tua dan baru menyadarinya ketika memasuki usia sewaktu kita menolak nasihat orang tua dulu (masa remaja).

Memang pada dasarnya, bentakan adalah sebuah bahasa dan sebuah teknik yang dilakukan orang tua untuk mengomunikasikan anak. Namun, sebagai orang tua perlu kita berinstropeksi pada diri sendiri, apa yang menyebabkan anak kita membentak atau memarahinya ketika menasihatinya ?

Apakah ini merupakan kesalahan dari kita sebagai (calon) ayah dan bunda yang mana ketika menasihati anaknya selalu diiringi dengan bentakan dan emosi yang tidak terkontrol?

Jikalau anda ingin mengubah anaknya menjadi berperilaku yang baik, maka cobalah untuk merubah gaya bicara anda dengan sopan dan lemah lembut. Tak perlu membalas bentakan anak dengan bentakan pula.

Mulailah dari kita untuk berbicara dengan volume sedang dan lemah lembut pada anak kita. Selain itu, orang tua juga berintropeksi apakah anda pernah berteriak atau membentak kepada anak anda.

Dan itu tidak menutup kemungkinan bahwa bahwa anda terbiasa dalam siklus lingkungan keluarga yang seperti itu. Dan Anda ‘dituntut’ untuk meminta maaf kepada anak anda apabila anda pernah melakukan perbuatan seperti itu.

Sebab orang tua yang selalu membentak anaknya akan dapat menghalangi percaya diri pada anak anda. Selain itu, anak akan mudah kecewa dan akan meniru kebiasaan orang taunya yang suka memarahinya dengan membentakinya.

Dalam ranah psikologi parenting, orang tua yang suka menasihati anaknya dengan membentaknya ternyata akan membawa dampak yang sangat buruk bagi perkembangan anaknya. Di antaranya adalah:

  1. Akan menjadi anak yang minder terhadap sesuatu hal yang baru.
  2. Jiwanya ‘seakan-akan’ penuh dengan kesalahan sehingga anak akan penuh dengan keraguan dan selalu tidak merasa percaya diri.
  3. Anak akan menjadi sosok yang tentramental, egois, sinis, bahkan judes karena terbentuk dengan kebiasaan orang tuanya.
  4. Anak akan cenderung melakukan tindakan yang agresif walaupun itu hal yang sepele.
  5. Akan  menjadi anak yang subversif (menentang dan keras kepala).
  6. Anak akan menjadi pribadi yang tertutup, suka menyimpan sesuatu  dan takut mengutarakan sesuatu serta takut dipersalahkan.
  7. Akan menjadi pribadi yang apatis.*/ Nurbaeti Amaliyah

Rep: Admin Hidcom
Editor: –


Adab Komunikasi antar Orang Tua dan Anak: Belajar Kisah Luqman Hakim 1
kontraktor rumah
bina rumah
pinjaman lppsa
pengeluaran kwsp
spesifikasi rumah
rumah ibs
pelan rumah
rekabentuk rumah
bina rumah atas tanah sendiri
kontraktor rumah selangor
rumah banglo syaifulloh bin imam muhtasari kontraktor bina rumah ibs saif muhtar

Source


kontraktor rumah, bina rumah, pinjaman lppsa, pengeluaran kwsp, spesifikasi rumah, rumah ibs, pelan rumah, rekabentuk rumah, bina rumah atas tanah sendiri, kontraktor rumah selangor, rumah banglo
syaifulloh bin imam muhtasari kontraktor bina rumah ibs saif muhtar
syaifulloh bin imam muhtasari kontraktor bina rumah ibs saif muhtar
syaifulloh bin imam muhtasari kontraktor bina rumah ibs saif muhtar

Back to list