Artikel Terkini

Kisah Abdullah bin Ummi Maktum dan Turunnya Surat ‘Abasa

Kisah Abdullah bin Ummi Maktum dan Turunnya Surat ‘Abasa
Kisah Abdullah bin Ummi Maktum dan Turunnya Surat 'Abasa 1

Abdullah bin Ummi Maktum radhiyallahu ‘anhu adalah seorang tunanetra sahabat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Ia adalah sepupu dari Khadijah binti Kuwailid (istri Rasulullah). Ayahnya bernama Qays bin Sa’id dan ibunya adalah Atikah binti Abdullah. Ibunya dipanggil Ummi Maktum yang artinya “Ibu dari yang Tersembunyi” alasannya karena dia melahirkan seorang anak yang buta.

abdullah bin ummi maktum

Abdullah bin Ummi Maktum adalah salah satu orang pertama yang masuk Islam. Dia juga termasuk salah seorang sahabat yang juga mengalami banyak penganiayaan terhadap kaum muslim. Meski sering mendapat perlakuan yang kasar, keyakinannya pada Islam tidak melemah. Serangan gencar dari kaum Quraisy malah membuat tekad untuk berpegang di agama Allah semakin kuat.

Turunnya Surat ‘Abasa Karena Abdullah bin Ummmi Maktum

Meskipun Abdullah bin Ummi Maktum tidak bisa melihat, namun keinginannya untuk belajar sangat besar. Dia sangat ingin menghapal Al Quran sehingga tidak jarang dia selalu berusaha menarik perhatian Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Dikisahkan pada suatu hari, Rasulullah sedang berkomunikasi dengan para tokoh Quraisy. Rasul sangat ingin mereka masuk ke Islam. Saat itu, Rasulullah berdialog dengan Utbah bin Rabi’ah dan saudaranya Shaybah Amr bin Hisham atau yang lebih dikenal sebagai Abu Jahl. Selain itu ada juga Umayyah bin Khalaf, dan Walid bin Mughirah (ayah dari Khalid bin Walid si “Pedang Allah”).

Rasulullah bernegosiasi dan memberi tahu mereka tentang Islam. Harapannya agar mereka bisa menerima Islam dan menyudahi kekerasan yang dilakukan kepada para sahabatnya. Saat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam berbicara kemudian datanglah Abdullah bin Ummi Maktum meminta Rasul untuk membaca sebuah ayat Al Quran. Dia berkata, “Wahai Rasulullah, ajari aku apa yang telah Allah ajarkan kepadamu.”

Mendengar itu, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam mengerutkan kening dan berpaling dari Abdullah. Beliau mengalihkan pandangannya kepada kaum Quraisy yang dianggap lebih utama. Beliau memandang bahwa jika kaum Quraisy mau masuk Islam maka misinya memperkuat agama Allah akan terpenuhi.

Setelah mengalihkan perhatian dan selesai berbicara dengan pemuka Quraisy, seketika Nabi merasa pandangan matanya sebagian buta dan kepalanya mulai berdenyut dengan keras. Saat inilah Allah menurunkan firmannya yang kemudian diabadikan di Al Quran pada surat ‘Abasa ayat 1 – 12. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

abdullah bin ummi maktum surat abasa

“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya,” (QS. ‘Abasa: 1 – 12)

Surat ‘Abasa Sebagai Teguran Allah

Surat ‘Abasa ayat 1 – 12 adalah teguran bagi Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam akibat mengalihkan pandangannya kepada orang yang mau belajar Al Quran. Hingga saat ini ayat tersebut masih terus dibaca oleh semua orang yang membaca Al Quran.

Sejak kejadian itu, Rasulullah merasa bersalah kepada Abdullah bin Ummi Maktum. Beliau tidak pernah berhenti bermurah hati kepadanya dan bertanya tentang urusannya, apa yang dia butuhkan, dan selalu mengajaknya setiap kali beliau melihatnya. Di tahun berikutnya, Rasulullah sering menyapa Abdullah bin Ummi Maktum dengan kata yang penuh kerendahan hati, “Selamat datang kepada yang atas dirinya, penopang hidupku menegur diriku.”

Abdullah bin Ummi Maktum Wafat

Meskipun tidak bisa melihat, namun semangatnya untuk membela agama Allah sangat besar. Ketika perang Qadisiyah, ia masuk ke dalam pasukan perang di bawah komando Sa’ad bin Abi Waqqas. Dia berada di garis depan mengenakan mantel baju besi sambil membawa bendera muslim. Selama tiga hari pertempuran, akhirnya kaum muslimin bisa mengalahkan pasukan Persia. Di pertempuran ini, Abdullah bin Ummi Maktum wafat sebagai syuhada. Ia terbunuh di medan perang sambil membawa bendera Muslim.

Kisah Abdullah bin Ummi Maktum dan Turunnya Surat 'Abasa 1
kontraktor rumah
bina rumah
pinjaman lppsa
pengeluaran kwsp
spesifikasi rumah
rumah ibs
pelan rumah
rekabentuk rumah
bina rumah atas tanah sendiri
kontraktor rumah selangor
rumah banglo syaifulloh bin imam muhtasari kontraktor bina rumah ibs saif muhtar

Source


kontraktor rumah, bina rumah, pinjaman lppsa, pengeluaran kwsp, spesifikasi rumah, rumah ibs, pelan rumah, rekabentuk rumah, bina rumah atas tanah sendiri, kontraktor rumah selangor, rumah banglo
syaifulloh bin imam muhtasari kontraktor bina rumah ibs saif muhtar
syaifulloh bin imam muhtasari kontraktor bina rumah ibs saif muhtar
syaifulloh bin imam muhtasari kontraktor bina rumah ibs saif muhtar

Back to list